0

Melihat Rumah

Ku ajak diriku berkeliling

Mengitari rumah setelah ditinggal

Di lantai ini

Debu Menempel di telapak kaki

Di kaca jendela juga

Menempel, menghalangi pengelihatan

Ohiya, tadi kau lihat dedaunan kering di halaman?

Berserakan, tak tersapu

Itu daun pohon mangga yang kau tanami dulu

Buahnya belum juga kau petik, tapi sampahnya sudah merusak mata

Lagi

Ku ajak diriku berkeliling

Mengitari rumah setelah ditinggal

Tepat di atas kepalaku ini

Langit-langit tampak kotor, pertanda ada yang bocor

Ini sebab hujan bulan lalu

Juga dengan temboknya

Sedikit retak, lembap dan tumbuh lumut

Kemana lagi? Kamar Mandi?

Jangan, jangan ke kamar mandii.

Tak perlu

Jika begini ruang tamuku, bayangkan saja kamar mandinya

Ku ajak kau ke dapur saja

Lihat wadah bumbu itu

Bawangnya sudah usang

Daun kemanginya kini mengering

Belum lagi pisau pemotong sayur yang karat itu

Begitulah rumah setelah ditinggal

Rumah tanpa puan

Dia hampa, tak beraturan

Tak terurus

Tak apa

Istirahat dulu. Jangan mengeluh.

Rumahku, Aku.

Mataram, 16 April 2021

4

Sepotong Kisah: Oleh-oleh dari Rumah Nenek

Saya harusnya senang bertemu nenek. Tapi, kadang nenek mengeluarkan kalimat yang membuat saya berpikir dan sedih. “Kamu nanti balik ke Mataram lagi? Wah, nanti kalau nenek meninggal kamu pasti di luar daerah. Kamu datang nggak ke kubur nenek nanti? Ohiya, hati-hati kalau memilih istri” Lagi-lagi, malam adalah waktu yang cukup tepat untuk evaluasi.

Momen pulang kampung kali ini saya sempatkan untuk mengunjungi rumah nenek. Ternyata nenek semakin tua saja. Tidak lagi lincah ketika beranjak dari tempat duduknya. Kemampuan melihatnya menurun, sangat. Kadang keluar air di ujung matanya ketika terlalu fokus melihat. Ia tidak sedang menangis. Ini hanya bagian dari tanda penuaannya saja. Katanya, “nenekmu sudah tua, tidak bisa menenun lagi”. Dulu, nenek cukup kuat untuk duduk seharian menenun. Sedih betul mendengar sosok penyayang yang tak pernah berhenti mendoakan kami cucunya ini menua. Melihatnya tua membuat saya ingin menangis. Tapi ini sunatullah, sudah begini jalannya.

Sumber: Arsip Negara Republik Indonesia

Saya seperti kembali ke pertengahan 2007 silam, saat pertama kali menetap di rumah nenek waktu awal masuk Tsanawiyah. Saat itu nenek masih kuat. Cukup kuat untuk pulang jalan kaki dari kebun dengan menjunjung kayu api di kepala sambil menenteng buah kelapa di tangannya. Dulu nenek sering mengajak ke kebun setiap minggu pagi. Sedikit terpaksa memang. Akan tetapi, perjalanan menuju kebun adalah hal yang menyenangkan. Karena saat itu saya bisa mendengar banyak hal tentang Ibu. Termasuk cerita bagaimana proses Ibu akhirnya berjodoh dengan bapak. Sembari jalan dan bercerita, nenek kadang memberi nasihat penghibur. Katanya, “Berkebun ini pekerjaan mulia. Sejatinya, dunia adalah kebun. Dunia adalah ladang untuk akhirat”. Lalu, saya menyahut, “Ah omong kosong, miskin ya miskin aja nek. Kalau dulu nenek orang kota dan bekerja kantoran, nenek akan bilang kantor adalah ladang akhirat” Lalu kami tertawa bersama.

Continue reading
0

Tuan Guru Bajang; Merawat Indonesia dengan Islam Wasathiyah

Tulisan ini pernah dimuat di Kumparan.com

Seorang ulama kharismatik, pernah menjadi gubernur termuda, dan menjabat sebagai gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) selama 2008-2018, Tuan Guru Bajang (TGB) M. Zainul Majdi mendapati banyak sorotan ketika namanya pernah masuk dalam jajaran calon wakil presiden di tahun 2019 oleh sebuah lembaga survey. Hal ini menambah rasa percaya diri yang kuat; bahwa tokoh muslim muda dari daerah punya kesempatan untuk ikut meramaikan pesta demokrasi di Indonesia.

(Sumber: NWDI Media Center)

TGB tidak datang dan muncul dengan tangan kosong. Modal utama beliau adalah kemampuannya mentransformasikan penerapan nilai-nilai keislaman yang moderat dalam konteks kebangsaan pada kehidupan modern. Keberhasilan pada dua periode menjadi gubernur adalah sedikit dari gambaran akan hal itu.

Kesan ulama yang dinilai cenderung lemah dalam dunia birokrasi, administrasi ataupun teknokrasi, serta hanya identik dengan ceramah dalam pengajian ternyata tidak terbukti pada TGB. Sebagai ulama, ahli tafsir, beliau mampu menerjemahkan nilai-nilai keislaman pada kehidupan modern. Sebagai umara, beliau sangat berhasil membangun dan menata birokrasi dengan baik selama menjadi gubernur. TGB dinilai cakap mengkombinasikan posisi beliau sebagai tokoh agama dan juga pemimpin birokrasi dalam mensinergikan keberhasilan pembangunan di NTB.

Continue reading