0

Memori Lampu Pelita; Cerita Pulang Kampung

Cerita yang sejenis juga pernah terjadi ketika ada inisiatif membangun jalan (baca: membelah bukit untuk jalan yang bisa dilewati motor dan mobil bermodalkan 100 persen tenaga manusia. Tanpa alat berat seperti eksafator, mobil stum atau penggilas aspal lainnya). Warga kampung protes, “Kami tidak punya uang untuk beli motor, jalan ini buat apa? Buat siapa?”. Kata bapak kala itu, “Kalau ada jalan, kalian naik ojek dari pasar dan bisa turun depan rumah. Tidak perlu jalan kaki. Mari kita anggap ini sebagai pembangunan untuk anak cucu kita nanti. Mungkin sekarang kita tidak punya uang yang cukup untuk membeli kendaraan, tapi anak cucu kita, mereka pasti bisa”. Sederhana tapi menyentuh, begitu polanya jika ingin menyadarkan warga kampung.

Malam itu hujan disertai angin bertiup kencang. Bunyi dedaunan dari pohon kemiri di sepanjang jalan saling bersahutan. Saya meminta saudara saya untuk mempercepat motor yang dikendarainya. Suasana kampung yang gelap seakan menyambut kedatangan saya malam itu. Ini adalah pulang yang kesekian kalinya setelah pertengahan tahun 2010 saya hijrah ke Mataram. Dan sepertinya, kesyahduan yang sedikit mencekam ini sengaja dirancang oleh alam sebagai ucapan selamat datang. “Uqii, ini kampungmu, kampung halamanmu, selamat datang”. Setelah masuk rumah dan bersalaman dengan semua keluarga, bapak lalu berkata, “Ini adalah malam keempat mati lampu”. Rupanya, sudah hampir seminggu lamanya aliran arus listrik menuju kampung terputus akibat pohon yang tumbang. Hal ini wajar ketika datang musim dan cuaca yang buruk seperti ini.

Seperti orang pada umumnya yang baru bertemu keluarga setelah terpisah lama. Saya kemudian banyak bercerita dengan keluarga. Tentang kehidupan saya di Mataram, juga cerita tentang perjalanan pulang yang baru saja saya alami. Tetapi, fokus saya kemudian sedikit berubah ketika melihat si bungsu, Luki, sedang belajar. Saya tahu, dia melakukan ini hanya untuk pencitraan karena saya datang. Karena saya tidak suka anak yang malas belajar. Cukup ringan tangan saya untuk melayang ke pipinya jika dia tidak belajar. Tapi yang menarik bukan itu. Karena saat itu mati lampu, si Luki belajar dengan lampu pelita sebagai alat bantu penerang. Memori masa kecil saya kemudian terbuka satu persatu.

Gambar. Nyala Api Lampu Pelita
Sumber: Museum Fadlizon

Dulu kalau belajar selalu pakai lampu pelita. Kata Ibu, “Belajar pakai lampu pelita di waktu maghrib atau subuh membuat kamu lebih mudah untuk paham”. Sebelum tumbuh dewasa dan paham ‘hakikat pergantian waktu’ serta konsep yang dimana kebanyakan lampu belajar memiliki warna cahaya seperti lampu pelita, saya hanya berpikir bahwa Ibu hanya mencari alasan agar berdamai dengan ketertinggalan tapi dengan embel-embel agama. Begitupun ketika ada hajatan di rumah, biasanya menggunakan petromax sebagai penerang. Petromax adalah tontonan yang menarik bersama anak-anak kecil yang lain. Menyenangkan sekali melihat lampu dengan nyala yg lebih besar dari lampu pelita selain menonton kebakaran gunung di kampung. Ohiya, Saya memang sangat menikmati semua detail kehidupan tentang masa kecil di kampung. Tidak jarang ketika pulang kampung, saya menghindari semua bentuk sosialisasi dengan teman di Mataram ataupun Malang. Saya sengaja menon-aktifkan data seluler. Hidup tanpa internet. Dengan begitu, saya bisa merasakan kehidupan seperti masa kecil yang sesungguhnya. Maka wajar, beberapa teman terkadang kesal karena susah untuk menghubungi saya. Namun alasan “kampung saya belum ada sinyal atau jaringan internet” sejauh ini masih cukup untuk membuat mereka tertipu lalu maklum.

Continue reading
0

Melihat Rumah

Ku ajak diriku berkeliling

Mengitari rumah setelah ditinggal

Di lantai ini

Debu Menempel di telapak kaki

Di kaca jendela juga

Menempel, menghalangi pengelihatan

Ohiya, tadi kau lihat dedaunan kering di halaman?

Berserakan, tak tersapu

Itu daun pohon mangga yang kau tanami dulu

Buahnya belum juga kau petik, tapi sampahnya sudah merusak mata

Lagi

Ku ajak diriku berkeliling

Mengitari rumah setelah ditinggal

Tepat di atas kepalaku ini

Langit-langit tampak kotor, pertanda ada yang bocor

Ini sebab hujan bulan lalu

Juga dengan temboknya

Sedikit retak, lembap dan tumbuh lumut

Kemana lagi? Kamar Mandi?

Jangan, jangan ke kamar mandii.

Tak perlu

Jika begini ruang tamuku, bayangkan saja kamar mandinya

Ku ajak kau ke dapur saja

Lihat wadah bumbu itu

Bawangnya sudah usang

Daun kemanginya kini mengering

Belum lagi pisau pemotong sayur yang karat itu

Begitulah rumah setelah ditinggal

Rumah tanpa puan

Dia hampa, tak beraturan

Tak terurus

Tak apa

Istirahat dulu. Jangan mengeluh.

Rumahku, Aku.

Mataram, 16 April 2021

4

Sepotong Kisah: Oleh-oleh dari Rumah Nenek

Saya harusnya senang bertemu nenek. Tapi, kadang nenek mengeluarkan kalimat yang membuat saya berpikir dan sedih. “Kamu nanti balik ke Mataram lagi? Wah, nanti kalau nenek meninggal kamu pasti di luar daerah. Kamu datang nggak ke kubur nenek nanti? Ohiya, hati-hati kalau memilih istri” Lagi-lagi, malam adalah waktu yang cukup tepat untuk evaluasi.

Momen pulang kampung kali ini saya sempatkan untuk mengunjungi rumah nenek. Ternyata nenek semakin tua saja. Tidak lagi lincah ketika beranjak dari tempat duduknya. Kemampuan melihatnya menurun, sangat. Kadang keluar air di ujung matanya ketika terlalu fokus melihat. Ia tidak sedang menangis. Ini hanya bagian dari tanda penuaannya saja. Katanya, “nenekmu sudah tua, tidak bisa menenun lagi”. Dulu, nenek cukup kuat untuk duduk seharian menenun. Sedih betul mendengar sosok penyayang yang tak pernah berhenti mendoakan kami cucunya ini menua. Melihatnya tua membuat saya ingin menangis. Tapi ini sunatullah, sudah begini jalannya.

Sumber: Arsip Negara Republik Indonesia

Saya seperti kembali ke pertengahan 2007 silam, saat pertama kali menetap di rumah nenek waktu awal masuk Tsanawiyah. Saat itu nenek masih kuat. Cukup kuat untuk pulang jalan kaki dari kebun dengan menjunjung kayu api di kepala sambil menenteng buah kelapa di tangannya. Dulu nenek sering mengajak ke kebun setiap minggu pagi. Sedikit terpaksa memang. Akan tetapi, perjalanan menuju kebun adalah hal yang menyenangkan. Karena saat itu saya bisa mendengar banyak hal tentang Ibu. Termasuk cerita bagaimana proses Ibu akhirnya berjodoh dengan bapak. Sembari jalan dan bercerita, nenek kadang memberi nasihat penghibur. Katanya, “Berkebun ini pekerjaan mulia. Sejatinya, dunia adalah kebun. Dunia adalah ladang untuk akhirat”. Lalu, saya menyahut, “Ah omong kosong, miskin ya miskin aja nek. Kalau dulu nenek orang kota dan bekerja kantoran, nenek akan bilang kantor adalah ladang akhirat” Lalu kami tertawa bersama.

Continue reading